Bab 6 Membuka Mata di Balik Ungkapan "Mula Keto"

Bab 6 Membuka Mata di Balik Ungkapan "Mula Keto"
 
Kehilangan orang yang dikasihi adalah peristiwa yang menyedihkan, dan beban itu terasa semakin berat ketika kehilangan itu disertai tekanan biaya yang besar. Bagi keluarga yang ditinggalkan, kehilangan orang tercinta seringkali disertai pula dengan pengurasan harta benda, terlebih jika orang tersebut sebelumnya menderita sakit dalam waktu lama dan harus dirawat di rumah sakit. Bagi mereka yang ekonominya cukup, hal ini mungkin tidak menimbulkan masalah yang berarti, namun bagi keluarga yang hidupnya pas-pasan, beban ini bisa terasa sangat menyesakkan. Bahkan kelangsungan hidup mereka pun bisa terancam, karena biaya pengobatan dan pelaksanaan upacara terasa jauh melampaui kemampuan yang mereka miliki.
 
Di tengah keadaan seperti inilah seringkali muncul jawaban yang begitu akrab di telinga masyarakat Bali yaitu  "Mula Keto". Ungkapan ini sederhana maknanya — "memang sudah demikian". Diucapkan ketika seseorang ditanya tentang arti, fungsi, atau tujuan dari sesuatu yang dilakukan namun belum benar-benar dipahaminya. Orang-orang melaksanakannya berulang kali dari generasi ke generasi, namun ketika ditanya mengapa dan untuk apa, jawabannya hanyalah "memang begitulah adanya". Tanpa pemahaman yang benar, segala sesuatu yang dilakukan lama-kelamaan berubah maknanya — yang seharusnya menjadi sarana penyucian diri dan ungkapan bakti, perlahan berubah menjadi beban yang memberatkan kehidupan.
 
Kebiasaan yang diwariskan tanpa pemahaman makna yang mendalam memang pada akhirnya justru dapat membelenggu pelakunya sendiri. Kita melaksanakan ini-itu bukan karena memahami esensinya, melainkan karena takut dinilai berbeda atau takut melanggar apa yang disebut "adat". Padahal ketika seseorang mulai bertanya, mulai mencari tahu makna di balik setiap gerak dan persembahan yang dihaturkan, di situlah dimulainya kebebasan sejati. Kita belajar membedakan mana yang merupakan hakikat ajaran dan mana yang hanyalah kebiasaan turun-temurun yang sudah tidak relevan lagi. Energi, waktu, dan harta yang sebelumnya terpakai untuk hal-hal yang tidak esensial pun dapat dialihkan untuk hal-hal yang jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan sesungguhnya.
 
Hal terpenting yang perlu kita sadari adalah bahwa kekayaan dan kemampuan yang kita miliki bukanlah untuk dipertontonkan dalam kemegahan upacara semata. Tuhan tidak melihat seberapa besar persembahan yang kita haturkan, melainkan dari seberapa tulus hati yang menghaturkannya. Jika kemampuan terbatas, lebih baik kita melaksanakan apa yang sederhana namun diiringi ketulusan yang utuh, daripada memaksakan diri hingga menyengsarakan kehidupan sehari-hari hanya demi menjaga gengsi atau sekadar menjawab "Mula Keto". Memang sudah demikian, namun demikianlah yang seharusnya — tulus sesuai kemampuan, bijaksana dalam melestarikan, dan terbuka untuk terus memahami makna yang lebih dalam dari setiap langkah yang kita ambil. 

Satu Cahaya, Beragam Sudut Pandang
 
Kebenaran itu bukanlah sesuatu yang terkurung dalam ruang tertutup yang hanya dimiliki oleh satu golongan atau satu kelompok saja. Sebaliknya, kebenaran dapat ditemukan di mana saja, pada siapa pun, dan dari mana pun datangnya. Ia tidak memilih-milih orang yang akan membawakannya — tidak hanya hadir di mulut mereka yang berpendidikan tinggi, tidak hanya berdiam di hati mereka yang berkedudukan terhormat. Seringkali kebenaran yang paling jernih justru terucap dari orang-orang yang sederhana, yang hidupnya dekat dengan pengalaman hidup yang sebenarnya. Kebenaran datang kepada siapa saja yang hati-nya terbuka, tanpa memandang status sosial, jabatan, maupun gelar yang disandang.
 
Setiap orang melihat kebenaran dari sudut pandang yang berbeda, karena pengalaman hidup masing-masing pun berbeda-beda. Seperti cahaya matahari yang menembus prisma dan memancarkan warna-warni cahaya, demikian pula kebenaran itu terlihat beragam ketika diterjemahkan oleh hati dan pikiran manusia yang berbeda. Tidak ada satu pihak pun yang boleh merasa paling memegang kebenaran seutuhnya, dan tidak ada satu pihak pun yang boleh diabaikan kebenarannya. Penyatuan kebenaran dari berbagai pengamalan yang berbeda itulah yang akan membentuk kebenaran yang utuh dan menyeluruh — bukan kebenaran yang memihak kepada kelompok tertentu, melainkan kebenaran yang melingkupi semua sisi kehidupan.
 
Ketika kita menyadari bahwa kebenaran itu luas dan tidak dimiliki sendiri, hati kita akan lebih terbuka untuk mendengarkan satu sama lain. Kita belajar menghargai pandangan orang lain sebagaimana kita menghargai pandangan diri sendiri, karena percaya bahwa setiap orang memiliki kebenarannya masing-masing menurut jalan yang ditempuhnya. Semua kebenaran yang dijalani dengan tulus ikhlas dan niat yang benar, pada akhirnya akan menuntun setiap orang menuju kedamaian dan kebahagiaan sejati. Sebab pada hakikatnya, semua jalan yang tulus menuju ke Satu Cahaya yang sama. 

Tradisi yang Hidup, Bukan Tradisi yang Beku.
 
Tradisi bukanlah sesuatu yang beku, tertutup, dan tidak boleh berubah. Tradisi lahir dari kehidupan masyarakat, tumbuh bersama kehidupan, dan ketika masyarakatnya berubah, tradisi pun sewajarnya ikut menyesuaikan diri. Namun penyesuaian itu bukan berarti membuang jati diri atau melupakan hakikat yang terkandung di dalamnya. Yang berubah hanyalah bentuk, cara, dan sarana pelaksanaannya agar tetap relevan dengan zaman, bukan nilai-nilai luhur dan makna spiritual yang menjadi inti ajaran. Itulah yang abadi dan harus tetap dijaga.
 
Sayangnya, banyak di antara kita yang justru terjebak pada kulit luarnya saja. Kita sibuk meniru gerak, bentuk, dan aturan turun-temurun tanpa pernah berhenti bertanya: untuk apa sebenarnya ini semua dilakukan? Segala sesuatu dilaksanakan hanya karena "sudah biasa begitu", tanpa memahami makna dan tujuannya. Inilah yang disebut dengan pola pikir Mula Keto — melakukan sesuatu semata-mata karena orang lain melakukannya, bukan karena kita benar-benar mengerti dan meyakini kebenarannya. Jika terus dibiarkan, tradisi yang seharusnya menjadi penuntun hidup perlahan-lahan berubah menjadi beban yang memberatkan.
 
Memang tidak semua hal yang lama itu buruk, dan tidak semua hal yang baru itu baik. Di sinilah diperlukan kebijaksanaan — kemampuan memilah mana yang tetap relevan untuk dipertahankan, dan mana yang sudah tidak sesuai lagi untuk diperbarui. Tradisi yang benar-benar hidup adalah tradisi yang lentur namun tidak patah: ia mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya, tetap menjaga kesakralan dan ketulusan di setiap langkahnya, serta senantiasa bermakna nyata bagi kehidupan generasi-generasi yang mewarisinya. 

Seperti Air yang Mengalir
 
Segala sesuatu yang ada di dunia ini senantiasa berubah, tidak ada yang kekal. Matahari terbit dan terbenam, musim silih berganti, dan zaman terus berjalan. Demikian pula dengan tradisi dan kebudayaan — ia tidak terlepas dari hukum perubahan ini. Banyak yang keliru mengira bahwa menjaga tradisi berarti mempertahankan segala sesuatu persis seperti dulu tanpa boleh berubah sedikit pun. Padahal yang terpenting bukanlah mempertahankan bentuk luarnya secara kaku, melainkan menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup, bermakna, dan bermanfaat bagi generasi-generasi berikutnya. Bentuk boleh berubah mengikuti kebutuhan zaman, namun jiwa dan hakikatnya harus tetap terjaga.
 
Jadilah seperti air yang mengalir — menyesuaikan diri dengan wadahnya, namun tetap mempertahankan hakikat dirinya yang jernih. Ketika dituangkan ke dalam gelas, ia berbentuk gelas. Ketika masuk ke dalam teko, ia pun menyesuaikan diri dengan teko. Ia tidak menolak tempatnya, namun ia tidak berubah menjadi lain dari dirinya sendiri. Demikian pula kita dalam menjalani tradisi dan kehidupan: kita beradaptasi dengan perkembangan zaman, kita terbuka terhadap hal-hal baru yang baik, namun kita tidak kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur yang kita yakini. Bukan mengubah arah karena arus yang kuat, melainkan mengalir tenang menuju samudera kebenaran yang sejati. Di situlah letak kebijaksanaan — lentur namun tidak patah, berubah namun tetap sama hakikatnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 3 Melepaskan untuk Melanjutkan Perjalanan.

Bab 4 Menjaga Kebajikan di Setiap Perjalanan Jiwa.

Bab 1 Upacara Ngaben: Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati