Bab 4 Menjaga Kebajikan di Setiap Perjalanan Jiwa.

Bab 4 Menjaga Kebajikan di Setiap Perjalanan Jiwa.
 
Upacara Ngaben yang dilaksanakan dengan menggunakan sarana dan prasarana yang sudah tersedia, yang telah dipersiapkan sebelumnya, disebut dengan upacara Sawa prateka.  Upacara ini dilaksanakan dengan tata cara yang telah ditentukan dan disepakati bersama. Dalam pelaksanaannya, upacara Sawa Prateka terbagi menjadi beberapa tahapan, yaitu upacara Ngaben Mewangun, upacara Ngaben Pranawa, dan upacara Ngaben Swasta. Masing-masing memiliki tata cara dan kelengkapan sarana yang berbeda-beda, namun pada hakikatnya tujuannya sama, yaitu membebaskan roh agar dapat melanjutkan perjalanan menuju tempat yang lebih baik.
 
Menyelenggarakan upacara Ngaben dengan Sawa Prateka memiliki kelebihan, terutama bagi keluarga yang kurang mampu. Dengan Sawa Prateka, biaya yang dikeluarkan jauh lebih terjangkau, sehingga upacara Ngaben tetap dapat dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai kemampuan keluarga. Selain itu, upacara ini juga mengajarkan kebersamaan. Ketika banyak keluarga yang melaksanakan upacara secara bersama-sama, maka terciptalah rasa kebersamaan dan gotong royong yang kuat di tengah masyarakat. Hal ini mempererat tali persaudaraan antar warga.
 
Selain Sawa Prateka, ada juga upacara Ngaben Ngerit atau Massal,  yaitu upacara penyucian jenazah yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh beberapa keluarga dalam satu waktu. Upacara ini biasanya dilaksanakan di tempat umum seperti di Desa Pakraman, Banjar, atau tempat yang telah ditentukan bersama. Tujuannya adalah untuk menyederhanakan pelaksanaan upacara Ngaben sekaligus menekan biaya yang harus dikeluarkan oleh masing-masing keluarga, sehingga setiap keluarga tetap dapat melaksanakan kewajibannya tanpa merasa terbebani biaya yang besar. Upacara Ngaben Ngerit biasanya dilaksanakan empat sampai lima tahun sekali, tergantung kesepakatan warga. Sebelum upacara utama dilaksanakan, ada serangkaian upacara pendahuluan yang harus dilaksanakan, seperti Ngulapin. Semua ini dilakukan dengan tulus ikhlas dan keyakinan bahwa yang terpenting adalah bhakti dan pengorbanan tulus dari keluarga yang ditinggalkan.
 
Ketika seseorang meninggal dunia, jiwanya belum langsung pergi sepenuhnya. Ia masih terikat dengan kenangan, keluarga, dan tempat tinggalnya. Oleh karena itu, dilakukan upacara ngulapin roh agar roh dapat dilepaskan dengan tenang dan diantarkan menuju perjalanan selanjutnya. Ada beberapa hal yang dilakukan dalam proses ini, untuk memberi bekal bagi roh yang baru berpisah dari raganya, Ngulapin untuk menyucikan roh dari segala kekotoran duniawi, serta memohon petunjuk dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 
Dalam setiap tahapan upacara, disiapkan berbagai banten yang memiliki fungsi masing-masing. Mulai dari memberikan bekal untuk  perjalanan roh, menguatkan dan menghibur hati keluarga yang ditinggalkan, Sesayut sebagai penghubung batin antara roh dan keluarga, hingga upacara  perpisahan yang sah antara jiwa dan raga. Ada pula Daksina Gede sebagai ungkapan terima kasih dan penghormatan kepada Sulinggih atau pendeta, Semua Banten ini disiapkan dengan tulus hati, semuanya saling melengkapi sebagai wujud bakti dan doa bagi yang telah mendahului.
 
Pelaksanaan upacara Ngaben secara bersama-sama atau yang dikenal dengan istilah Ngerit juga merupakan sebuah tradisi yang sangat mulia. Hal ini dilakukan ketika beberapa keluarga yang kehilangan anggota keluarga melaksanakan upacara Ngaben secara bersamaan di satu tempat, sehingga beban biaya dan tenaga dapat dibagi bersama, dan upacara tetap dapat terlaksana dengan baik tanpa memberatkan salah satu pihak. Tata caranya tetap mengikuti aturan yang berlaku di Desa Pakraman masing-masing, di mana waktu, tempat, dan urutan upacara semuanya disepakati bersama oleh keluarga yang melaksanakannya.
 
Yang perlu selalu diingat adalah bahwa kesungguhan hati jauh lebih penting daripada kelengkapan sarana. Jika kemampuan terbatas, pilihlah upacara yang sederhana namun tetap tulus ikhlas, karena lebih baik sederhana namun tulus daripada megah namun memaksakan diri. Kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, namun percayalah bahwa ini adalah jalan yang harus ditempuh oleh setiap makhluk hidup, dan waktu serta ketulusan mendoakanlah yang akan menyembuhkan segalanya. Biarlah yang telah pergi berjalan dengan tenang menuju cahaya abadi, dan bagi kita yang masih diberikan kesempatan hidup, marilah kita menjaga kebersamaan, saling mendukung, dan senantiasa berbuat baik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 3 Melepaskan untuk Melanjutkan Perjalanan.

Bab 1 Upacara Ngaben: Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati