Postingan

Bab 11 Mengapa Mayat Dibakar?

Bab 11 Mengapa Mayat Dibakar? Pertanyaan yang begitu polos namun begitu dalam pernah terucap: jika dalam upacara Ngaben tubuh dibakar, apakah mayatnya tidak kepanasan? Pertanyaan itu menyentuh inti dari seluruh ajaran Hindu tentang kematian — bahwa yang terbakar bukanlah yang sejati, dan yang terpenting tidak pernah tersentuh oleh api sekalipun. Dalam perspektif Hindu, yang mengalami proses pembakaran adalah tubuh fisik semata, bukan Atman, bukan jiwa, bukan hakikat yang hidup dan bernyawa. Api itu menyentuh tanah, air, api, udara, dan eter yang menyusun badan ini — tetapi api itu tidak pernah bisa menyentuh, apalagi melukai, Atman yang abadi.   Ngaben mengajarkan satu hal yang sangat dalam: tubuh hanyalah titipan. Kita sering kali begitu menyatu dengan tubuh ini — menyebutnya "aku", menyayanginya, mengkhawatirkannya, hingga lupa bahwa ia hanyalah pakaian yang dikenakan Atman untuk sementara waktu. Seperti pakaian lama yang sudah usang dan tak pantas lagi dipakai, maka digant...

Bab 10 Ngaben Itu Bakar Mayat atau Antarkan Roh?

Bab 10 Ngaben Itu Bakar Mayat atau Antarkan Roh? Banyak orang yang melihat upacara Ngaben hanya dari sisi luarnya saja. Mereka melihat api yang besar, asap yang mengepul, dan tubuh fisik yang perlahan habis dimakan api. Lalu timbul pertanyaan sederhana namun mendalam: "Sebenarnya Ngaben itu hanya sekadar membakar mayat, ataukah ada tujuan yang jauh lebih besar yaitu mengantarkan roh?" Jawabannya sangat jelas. Jika hanya untuk memusnahkan jenazah agar tidak membusuk, cara apa pun bisa dilakukan. Namun dalam ajaran Hindu, Ngaben bukan sekadar proses pembuangan sampah tubuh fisik. Ngaben adalah sebuah ritual penyeberangan. Tubuh fisik memang dibakar dan dimusnahkan, tetapi tujuan utamanya adalah untuk membebaskan dan mengantarkan roh atau Atman agar dapat beranjak meninggalkan dunia fana dengan selamat, suci, dan tenang menuju alam asalnya.   Api dalam upacara Ngaben bukanlah api biasa yang digunakan untuk memasak. Api ini adalah api suci yang memiliki kekuatan spiritual untuk m...

Bab 9 Apakah Upakara Ngaben Menentukan Nasib Atman Setelah Mati?

Bab 9 Apakah Upakara Ngaben Menentukan Nasib Atman Setelah Mati?   Sering muncul keraguan dan salah paham di tengah kita: apakah pemuput upakara dan kemewahan upacara bisa mengubah nasib atman yang telah meninggal? Jawabannya tegas: TIDAK. Sang Hyang Widhi atau Brahman telah menetapkan hukum alam yang kekal bernama Rta, hukum sebab-akibat yang berlaku adil tanpa pandang bulu. Tuhan setia pada hukum-Nya sendiri; tidak ada intervensi yang bisa membelokkan keadilan ini. Setiap manusia yang lahir sudah membawa bekal Karmawasana dari kehidupan sebelumnya, dan segala perbuatan selama hidup di dunia inilah yang akan menentukan perjalanan kelahiran berikutnya atau pencapaian akhir nanti. Inilah inti dari lima keyakinan utama dalam ajaran Hindu yang disebut Pancasrada: yakin akan adanya Brahman, yakin akan adanya Atman, yakin akan adanya hukum Karmaphala, yakin akan adanya Reinkarnasi, dan yakin akan adanya Moksa.   Lalu untuk apa sebenarnya upacara pembakaran jenazah atau Ngaben dilak...

Bab 8 Apakah Kemegahan Upacara Bisa Menghapus Hukum Karma?

Bab 8 Apakah Kemegahan Upacara Bisa Menghapus Hukum Karma? Menanggapi pernyataan Goesanaputra Dewi " Ada orang yang semasa hidupnya mengumpulkan harta dengan cara yang tidak benar.  Namun setelah dia berpulang, keluarganya mampu menggelar upacara Ngaben yang sangat megah,  kemudian upacara Mamukur besar-besaran, hingga selesai prosesi Ngelinggihang. Seolah-olah Atma itu langsung menjadi Dewa Hyang. Lalu timbul pertanyaan besar dalam hati: apakah hukum karmaphala tidak berlaku bagi mereka? Apakah kekayaan dan kemegahan upacara sanggup menghapus segala perbuatan yang keliru semasa hidup?   Baiklah, akan saya jawab berdasarkan sastra yang saya temukan dalam ajaran suci yang telah diwariskan leluhur. Bhagawad Gita menegaskan bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya; tidak ada satu pun yang dapat mengelak dari hukum sebab-akibat ini. Dalam Bhagavad Gita 4.37 disampaikan bahwa bagaikan api yang membakar kayu menjadi abu, hanya pengetahuan sejati dan perbuatan luhur yang mamp...

Bab 7 Bade: Sarana Suci Pengantar Jenazah Menuju Keabadian.

Bab 7 Bade: Sarana Suci Pengantar Jenazah Menuju Keabadian.   Dalam tradisi suci masyarakat Bali, upacara Ngaben bukan sekadar pembakaran jenazah untuk membuang jasad yang telah mati, melainkan sebuah perjalanan panjang dan sakral untuk mengantarkan roh orang yang telah meninggal agar terlepas sepenuhnya dari ikatan duniawi, lalu kembali menyatu kepada asal-usulnya yang suci. Di dalam perjalanan suci itu, Bade memegang peranan yang sangat penting dan tidak tergantikan. Bagi orang awam, Bade mungkin terlihat hanya seperti menara atau bangunan indah yang dihias beraneka warna untuk mengusung jenazah. Namun sesungguhnya, segala bentuk, ukuran, hiasan, hingga tingginya atap Bade itu telah diatur dengan sangat rinci dan penuh makna mendalam di dalam naskah-naskah suci warisan leluhur, yang sejak dahulu menjadi pedoman tak tergoyahkan bagi setiap orang Bali yang melaksanakan upacara Pitra Yadnya.   Yang menjadi sumber utama dan rujukan paling lengkap mengenai segala hal yang berkait...

Bab 6 Membuka Mata di Balik Ungkapan "Mula Keto"

Bab 6 Membuka Mata di Balik Ungkapan "Mula Keto"   Kehilangan orang yang dikasihi adalah peristiwa yang menyedihkan, dan beban itu terasa semakin berat ketika kehilangan itu disertai tekanan biaya yang besar. Bagi keluarga yang ditinggalkan, kehilangan orang tercinta seringkali disertai pula dengan pengurasan harta benda, terlebih jika orang tersebut sebelumnya menderita sakit dalam waktu lama dan harus dirawat di rumah sakit. Bagi mereka yang ekonominya cukup, hal ini mungkin tidak menimbulkan masalah yang berarti, namun bagi keluarga yang hidupnya pas-pasan, beban ini bisa terasa sangat menyesakkan. Bahkan kelangsungan hidup mereka pun bisa terancam, karena biaya pengobatan dan pelaksanaan upacara terasa jauh melampaui kemampuan yang mereka miliki.   Di tengah keadaan seperti inilah seringkali muncul jawaban yang begitu akrab di telinga masyarakat Bali yaitu  "Mula Keto". Ungkapan ini sederhana maknanya — "memang sudah demikian". Diucapkan ketika seseora...

Bab 5 Banten Ayaban Pengiring.

Bab 5 Banten Ayaban Pengiring.   Banten Ayaban Pengiring merupakan Banten yang mengiringi dan mengikuti Banten inti, yang terdiri dari Tumpeng Lima, Tumpeng Pitu, Tumpeng Sia, tumpeng Solas,  Udel Kurenan, Pulogembal dan Bebangkit. Semua bentuk ini sesungguhnya tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan disesuaikan sepenuhnya dengan kemampuan masing-masing orang. Maksudnya secara sederhana adalah menyesuaikan diri dengan apa yang dimiliki, sehingga tidak ada beban yang memberatkan hati maupun keadaan hidup sehari-hari.   Jika kemampuan yang dimiliki terbatas, misalnya ekonominya pas-pasan, maka tidak perlu merasa terpaksa membuat Banten yang besar dan rumit. Cukup memilih Tumpeng Lima yang sederhana namun tulus, itu sudah cukup dan diterima dengan baik. Sebaliknya, bagi orang yang mampu, dapat menyesuaikan dengan kemampuannya masing-masing, bahkan dapat menggunakan Banten Ayaban Bebangkit yang lebih lengkap. Tidak ada paksaan, tidak ada standar tunggal yang ...