Bab 7 Bade: Sarana Suci Pengantar Jenazah Menuju Keabadian.
Bab 7 Bade: Sarana Suci Pengantar Jenazah Menuju Keabadian.
Dalam tradisi suci masyarakat Bali, upacara Ngaben bukan sekadar pembakaran jenazah untuk membuang jasad yang telah mati, melainkan sebuah perjalanan panjang dan sakral untuk mengantarkan roh orang yang telah meninggal agar terlepas sepenuhnya dari ikatan duniawi, lalu kembali menyatu kepada asal-usulnya yang suci. Di dalam perjalanan suci itu, Bade memegang peranan yang sangat penting dan tidak tergantikan. Bagi orang awam, Bade mungkin terlihat hanya seperti menara atau bangunan indah yang dihias beraneka warna untuk mengusung jenazah. Namun sesungguhnya, segala bentuk, ukuran, hiasan, hingga tingginya atap Bade itu telah diatur dengan sangat rinci dan penuh makna mendalam di dalam naskah-naskah suci warisan leluhur, yang sejak dahulu menjadi pedoman tak tergoyahkan bagi setiap orang Bali yang melaksanakan upacara Pitra Yadnya.
Yang menjadi sumber utama dan rujukan paling lengkap mengenai segala hal yang berkaitan dengan Bade adalah Lontar Siwa Purana Tattwa. Di dalam lontar ini disebutkan secara tegas bahwa Bade sesungguhnya adalah sarana suci yang diciptakan khusus untuk mengantar jenazah menuju keabadian. Bukan sekadar kendaraan biasa, melainkan wadah yang penuh kekuatan sakral untuk membawa roh pulang kembali kepada Sang Pencipta. Lontar ini membagi Bade menjadi tiga tingkatan yang disesuaikan dengan kemegahan dan kedudukannya, yaitu Bade Nista yang sederhana dan kecil, Bade Madya yang berukuran sedang, serta Bade Uttama yang paling utama, paling besar, dan paling megah. Pada Bade Uttama, atapnya disusun bertingkat-tingkat yang disebut Tumpang, dengan jumlah tingkat yang telah ditetapkan, yaitu sebelas, sembilan, tujuh, lima, atau empat tingkat. Semakin banyak jumlah tingkat atapnya, semakin tinggi pula kedudukan roh yang sedang diupacarai untuk diantar pulang ke alam suci. Seluruh tubuh Bade dihiasi dengan lima warna utama yang melambangkan Panca Maha Bhuta — lima unsur pembentuk alam semesta dan tubuh manusia — sehingga saat jenazah diletakkan di atasnya, seluruh unsur yang menyusun tubuh itu pun dikembalikan kepada asalnya masing-masing. Bade yang telah disucikan juga boleh disertai dengan patung Naga Taksaka dan patung Lembu sebagai kendaraan roh, agar perjalanan pulang menuju keabadian berjalan lancar dan mulia.
Apabila Lontar Siwa Purana Tattwa mengatur bentuk dan tingkatan Bade secara umum, maka Lontar Yama Purwana Tattwa hadir melengkapi dengan penjelasan mengenai bagian yang paling penting di dalam Bade itu sendiri, yaitu Petulangan. Petulangan adalah wadah atau tempat di mana jenazah diletakkan, dan bentuknya pun telah ditentukan sesuai dengan kedudukan serta kasta almarhum semasa hidupnya. Ada Petulangan yang berbentuk Lembu, ada yang berbentuk Naga, Singa, Macan, hingga Gajah Mina. Setiap bentuk itu bukan dibuat sesuka hati, melainkan memiliki makna dan kedudukan masing-masing. Sebagai contoh, Petulangan yang berbentuk Lembu Putih diperuntukkan bagi pendeta atau orang yang telah menjalani kehidupan suci, sedangkan Lembu Hitam diperuntukkan bagi golongan Ksatria, dan begitu pula golongan lainnya memiliki bentuk yang telah disesuaikan. Semua itu diatur agar roh yang diupacarai dapat diantar dengan kehormatan yang selayaknya, sesuai dengan jati diri dan pengabdiannya selama hidup di dunia.
Selanjutnya, segala hal yang berkaitan dengan ukuran, perbandingan, serta bagian-bagian yang harus ada pada Bade diatur secara teknis dalam Lontar Dharma Laksana. Lontar ini menjadi pedoman utama bagi Undagi Bade, yaitu para perajin Bade yang telah memiliki keahlian dan penyucian diri khusus sebelum diperbolehkan membuatnya. Di dalamnya diatur dengan sangat rinci berapa ukuran lebar alasnya, berapa tinggi tiangnya, hingga bagian-bagian yang disebut Palih, yaitu hiasan-hiasan utama yang wajib ada. Ada Palih Taman, Palih Sari, Palih Batur, dan Gunung Gopel. Keempat bagian utama ini jika disatukan menjadi satu kesatuan yang indah disebut Palih Macira atau Petira Agung. Lontar ini menegaskan dengan tegas bahwa pembuatan Bade tidak boleh hanya mengikuti selera seni atau keinginan semata, melainkan harus taat sepenuhnya pada ukuran dan aturan yang tertulis. Jika ukurannya melesat atau bagiannya tidak lengkap, maka Bade itu dianggap belum sempurna dan upacaranya pun belum lengkap secara tata cara. Oleh sebab itu, Undagi Bade yang dipercaya membuatnya pun harus orang yang telah melalui upacara penyucian diri atau pewintenan, agar setiap ukuran yang dipahat dan setiap bagian yang disusun menjadi berkat dan sarana yang sah untuk mengantar roh pulang.
Penyempurna dari seluruh ketentuan Bade tertulis di dalam Lontar Yama Purwa Tattwa. Lontar ini menjelaskan hari yang baik untuk mulai membuat Bade, jenis sesajen yang wajib dipersembahkan saat Bade selesai dibuat, hingga doa dan mantra apa saja yang harus dilantunkan ketika jenazah diletakkan dan diusung menuju tempat pembakaran. Di dalam lontar ini pula disebutkan makna tertinggi dari Bade yang sesungguhnya: Bade adalah perwujudan dari Gunung Mahameru, yaitu gunung suci tempat bersemayamnya para Dewa dan pusat alam semesta. Oleh karena itu, ketika jenazah diusung di atas Bade, itu bukan sekadar berjalan menuju setra untuk dibakar, melainkan dilambangkan sedang naik perlahan-lahan menuju puncak Gunung Mahameru, mendekati kediaman para Dewa, dan kembali pulang kepada sumber asalnya yang suci.
Dari segala aturan yang tertulis di dalam keempat lontar tersebut, tersimpul makna yang begitu dalam dan indah mengenai kedudukan Bade. Bade itu bukan sekadar menara kayu yang dihias warna-warni untuk dipandang mata. Bade adalah Gunung Mahameru itu sendiri. Bagian bawah yang paling lebar melambangkan kaki atau dunia tempat kita hidup dan berpijak selama ini. Bagian tengah yang menjulang ke atas melambangkan badan atau penghubung antara dunia fana dengan alam yang kekal. Dan atap bertingkat-tingkat yang semakin ke atas semakin kecil dan menunjuk ke langit itu melambangkan kepala atau alam para Dewa, tempat kediaman Sang Hyang Widhi Wasa yang Maha Agung. Maka ketika jenazah diusung di atas Bade, sesungguhnya roh itu sedang dipersembahkan untuk naik perlahan-lahan meninggalkan dunia yang fana ini, meninggalkan segala ikatan dan keinginan sesaat, lalu kembali pulang menuju Tuhan. Semakin banyak tingkat atap Bade itu, semakin tinggi pula arah kembalinya roh mendekat kepada Sang Pencipta.
Itulah sebabnya segala aturan tentang Bade dijaga dan diturunkan dari generasi ke generasi melalui lontar-lontar suci ini. Agar kita tidak sekadar melaksanakan tradisi tanpa tahu maknanya, dan agar sarana yang kita gunakan untuk mengantar orang yang kita cintai pulang ke keabadian itu benar-benar sah, suci, dan menjadi jalan yang mulia bagi roh mereka untuk kembali menyatu dengan Sang Hyang Widhi Wasa.
Komentar
Posting Komentar